Pendidikan

Sabtu, 29 Agustus 2009

“Etika Sosial dalam Surat al-Hujurat Ayat 11-12 dan Implikasi Terhadap Pembinaan Akhlak”

Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan mengetahui: 1) etika sosial yang terkandung dalam surat al-Hujurat ayat 11-12, 2) konsepsi Islam tentang pembinaan akhlak, 3) pengaruh etika sosial yang terkandung dalam al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 11-12 terhadap pembinaan akhlak.
Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Data penelitian yang terkumpul kemudian dianalisis dengan metode interpretative, yakni metode yang berperan untuk mencari kandungan surat al-Hujurat ayat 11-12 tentang etika social, hubungannya dengan pembinaan akhlak. Metode tahlili, yakni metode tafsir yang berusaha mengiraikan al-Qur’an secara detail dan metode hemeneutika. Metode ini sejajar dengan ta’wil. Pendekatan yang digunakan, yaitu pendekatan filosofis, pendekatan sosial dan pendekatan psikologis. Setelah melakukan penelitian, maka diketahui bahwasannya etika sosial merupakan suatu kewajiban dan tanggung jawab manusia sebagai anggota umat manusia. Di sana disebutkan bahwa etika sosial berhubungan dengan seseorang serta bagaimana caranya bersikap antar sesama, berperilaku dalam masyarakat dapat memposisikan dirinya pada masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Dalam hal ini penting adanya beretika yang baik, bersikap, bertutur kata yang baik. Allah menganugerahkan kepada manusia berupa lisan (berbicara) merupakan anugerah yang terbesar, artinya dengan lisan manusia bisa berkomunikasi dengan yang lain. Apa yang diinginkan manusia bisa diungkapkan dengan lisan, sehingga lisan perlu dijaga. Artinya tidak digunakan untuk mengucapkan hal-hal yang tidak baik, jangan sampai menggunakan lisan tersebut untuk dijadikan alat fitnah dan sumber dosa.

Dalam hal ini surat al-Hujurat ayat 11-12 dapat dijadikan pedoman untuk tidak menggunakan lisan menurut kehendak sendiri, yakni tidak mengolok-olok, tidak mencela, tidak memanggil dengan gelar buruk, tidak buruk sangka, tidak mencari-cari kesalahan orang lain dan tidak menggunjing. Dalam hal ini, akhlak memang perlu dibina, anak didik yang tidak dibina akhlaknya atau dibiarkan tanpa bimbingan, arahan atau pendiidkan, akan menjadi anak-anak yang nakal, mengganggu masyarakat, melakukan perbuatan tercela. Pembinaan akhlak dalam pendidikan Islam mempunyai peranan yang amat penting dalam pengaturan berinteraksi terhadap orang lain. Dalam kesehariannya seseorang terlihat dari segi tingkah lakunya, bersikap yang berhubungan dengan lisan. Bicara pembinaan memang sangat dibutuhkan untuk menampilkan generasi penerus yang berakhlak mulia dan berbuat yang sesuai dengan norma-norma agama atau syari’at agama Islam, karena pembinaan akhlak meurpakan tumpuan pertama dalam Islam. Perhatian Islam terhadap pembinaan akhlak dapat dilihat terhadap pembinaan jiwa yang harus didahulukan daripada pembinaan fisik. Karena pada dasarnya jiwa yang baik akan lahir perbuatan. Perbuatan baik yang menghasilkan kebaikan dan kebahagiaan pada seluruh kehidupan manusia lahir dan batin. Hal ini juga dapat dilihat bahwa dalam Islam adanya integrasi dalam pelaksanaan rukun iman dan rukun Islam terhadap pembinaan akhlak yang ditempuh, yakni menggunakan cara atau sistem yang terkait, yaitu sistem yang menggunakan berbagai sarana peribadatan yang secara simultan diarahkan pada pembinaan akhlak.
Pembinaan akhlak sebenarnya dimulai sejak anak lahir, dengan perlakuan orang tua yang sesuai dengan ketentuan akhlak dan dilanjutkan dengan membiasakan anak melakukan sopan santun yang sesuai dengan agama serta mendidiknya agar meninggalkan yang tercela dan terlarang dalam agama. Karena pembinaan ini tentunya akan berpengaruh terbentuknya pribadi-pribadi muslim yang berakhlak mulia. Dalam hal ini etika sosial dalam surat al- Hujurat ayat 11- 12 terhadap pembinaan akhlak yakni:
1. Tidak mengolok-olok
Dapat menjadikan pribadi muslim menjadikan ia tidak suka mengejek dan tidak sombong terhadap orang lain. Petunjuk al-Qur’an yang tertanam dalam jiwa seorang muslim akan melahirkan pribadi yang mencintai dan tawadhu’ serta jauh dari sifat takabur dan merasa lebih tinggi dari orang lain.
2. Mencela
Dalam hal ini, mencela sebagai wujud agar tidak terjadi penghinaan terhadap diri sendiri yang berakibat ia menjadi kufur, mencegah dari kehinaan dan kenistaan.
3. Tidak memanggil dengan gelar buruk
Manusia yang bermasyarakat dapat dijadikan pedoman bahwa tidak seharusnya mengikuti kehendak diri sendiri dengan memanggil seseorang dengan menyakiti atau menyinggung orang lain.
4. Buruk sangka
Menggugah rasa kemanusiaan. Karena dapat menjaga hubungan harmonis, baik secara vertikal maupun horisontal.
5. Tidak mencari-cari kesalahan orang lain
Mampu mempertimbangkan apa yang ada pada dirinya dengan yang ada pada orang-orang lain, sehingga sebelum bertindak ia memperbaiki dirinya sendiri.
6. Menggunjung
Menjaga kehormatan saudaranya, dapat mencapai integritas yang baik dan menjaga semangat kegotongroyongan serta keharmonisan.

Dengan demikian, larangan dalam surat al-Hujurat ayat 11-12 adalah peringatan untuk bertakwa kepada Allah, karena dengan takwa, maka kesopanan seseorang akan terbentuk. Seseorang tidak tahu memilih mana pekerjaan yang terpuji dan mana yang salah, sehingga dengan pembinaan akhlak secara sungguhsungguh pada peserta didik diharapkan dapat mengendalikan gejolak jiwa dan emosinya dengan bertumpu pada ajaran dan nilai-nilai agama Islam.

Label:

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda